Minggu, 16 Oktober 2011
Interior,aku termangu oleh pesona mu
“ingat!pikirkan interior.pikirkan interior.pikirkan interior!”
. . . . . . . . . . . . . . . .
“pikirkan dosennya. . .”
. . . . . . . . . . . . . . . .
lho,kok.
aku sedang semangat mengerjakan tugas.interior!bagaimana tidak,setiap kali aku menyentuh coretannya,sama seperti aku menyentuhnya.
. . . . . . . . . . . . . . . .
#hanyamencari sosokygbisakukagumi.
Selasa, 15 Februari 2011
Pahlawan Bulu Ketek, katanya
Sebuah percakapan tengah malam dengan seorang teman.
Pahlawan bulu ketek.
Entah datang dari mana sebutan itu. Percakapan lewat sms cukup memberikan imajinasi berlari, berjalan, berjoget kesana kemari. Terkekeh sendiri. Membayangkan si bulu ketek bermain, berkreasi, menari dengan asik. Lalu, tak hanya ada dengan sendirian, melainkan segerombolan. Dari ayahnya hingga eyang-eyangnya. Bergerombol jadi satu. Kuat. Lekat. Rasanya klan bulu ketek ini memiliki ikatan persaudaraan yang tinggi. Kekompakan dan kesolidan pun begitu indahnya tampak dengan jelas. Bagaimana tidak, ketika dibasmi habis-habisan, berharap tidak akan muncul lagi. Beberapa hari kemudian, klan bulu ketek menampakkan embrionya. Kecil – kecil namun pasti. Sang empunya pun tidak mau kalah dengan klan keras kepala ini. Usaha apapun dicoba. Hingga harus menahan rasa sakit pun dilalui sang empunya. Memerah. Lama, klan bulu ketek tidak terlihat. Sang empunya merasa bangga. Akhirnya aku memenangkan peperangan ini. Terlena, terkecoh, lalu lalai.
Matahari akhirnya bertengger ramah. Santai dengan kacamata hitam dan segelas air dingin. Sejuk. “santai dulu.” Katanya. Sang empunya bangun dengan keberatan di pantat. Perlu tenaga 1000kj untuk menendang pantatnya agar terkesiap. Memandang cermin, hendak mandi. Seperti biasa aktivitas dipagi hari sebelum mandi, mengecek ketiak dengan teliti. Diam, dan hening. “hmm, sepertinya aku sudah melupakan aktivitas ini beberapa hari yang lalu,”. Celetuk sang empunya dengan santai. Sembari menggerakkan badan, mulet-mulet. Tangan diangkat, dan sang empunya melihat sesuatu yang dia perangi selama ini seakan melambai dengan senyum penuh kemenangan, “aarrrgghhhhhhhhhhh….. tidak. Kenapa kalian muncul lagi dalam kelalaian ku…….?????” Dan akhirnya, sang empunya menyerah dalam amarah.
Bulu ketek mu menghancurkan imajinasi ku. Teganya kau umbar dengan gamang, pada ku. Seperti balita yang tengah mencoret coret dinding rumahnya.
Geli membayangkan bulu ketek mu menjulur rapi, lurus. Seperti direbonding. Mengalahkan rambut mu. Tapi adakalanya bulu ketek itu akan dirindukan. Tidak bagus juga, ketiak gundul tanpa pernak-pernik. Seperti gadis tanpa make-up.
Sekian pikiran kurang kerjaan saya.
Dari percakapan dengan seorang teman lewat sms. Dan dia dengan bangga mengatakan dirinya pahlawan bulu ketek. Buat nurul andini, terimakasih atas idenya.
Sidoarjo, 16 februari 2011, 0:42 (kamar rumah yang sumuk).
Kamis, 14 Oktober 2010
Senin, 17 November 2008
Bumi ku Menghangus
Jalanan tak lagi lenggang memang. Sibuk ribut memburu hari-hari yang sungguh cepat berlalu. Bukan lagi berkeliaran nanar, liar mencari celah sesempit apapun pasti tertemu. Bincang santai bincang bermaksud, bercampur maur seperti tahu campur. ”Bumi ini” menjadi lebih sibuk dari biasanya. Hal itu memang seperti itu, sudah terjadi semenjak ”hari itu”.
Pernah suatu ketika seorang laki paruh baya, tak jauh beda dengan ku bertanya, ”apa yang sedang kau lakukan akhir pekan ini?”. Pertanyaan yang tak kutahu arahnya. Seperti hanya berbasa-basi tak berarti. Tapi aku mencoba menjawabnya, ”yah, akhir pekan ini, aku harap aku bisa menikmatinya dengan ’santai’ bukan hanya sekedar ’santai’.” tidak terlihat seperti jawaban yang dia butuhkan sepertinya, terlihat dari ekspresi yang dia perlihatkan, alisnya yang tadinya lurus, sekarang mengerut bertaut seakan berkata ’apa maksud kalimat mu, santai bukan hanya sekedar santai?’. Sebentar dia menggumam, lalu berkata pelan dia pada ku, ”santai bukan di dapat, tapi di raih. Urusi saja semua hal yang merepotkan mu. Habisi saja semua hal yang menghambat mu. Sebelum akhir pekan habis tak tersisa di rebut orang – orang yang bersenda tertawa..” Lalu dia pergi, lenyap dalam barisan orang yang bertabrakan. Dan aku hanya bisa menghela nafas, seakan habis mendapat suatu berkah yang luar biasa menenangkan, ”heemm...memang terkadang sesuatu yang menurut ku tak berarti malah memberikan sesuatu yang diluar kata berarti..”
Sudah ku ketahui sebelumnya. Apa yang terjadi selanjutnya, jika aku benar terjun bebas. Tidak hanya remuk redam tulang organ ku. Sesuatu lebih dari itu, menyapa hangat namun pelan menusuk. Saat itu bulat tekad ku. Tak berpikir apapun selain maju. Hasilnya terperkirakan. Ya, aku memang ’slamat’. Dan sampai saat ini aku masih terus bertahan. Karena dataran ku masih ’datar’ masih ’lebar’. Tapi, apakah yang sebenarnya yang membuat ku sempat berpikir ”linglung” bingung terus mengaung? Yang mengakibatkan ’bumi ku menghangus’ menyisakan sesak yang terabaikan yang tak tersembuhkan.
Lalu apa?
Jumat, 05 September 2008
- penyair? -
Ketika malam itu tiba, hampir setiap orang tak berani keluar rumah. Sekalipun untuk melihat apa yang terjadi. Angin malam yang berhembus kencang, seakan-akan mengamuk tiada habisnya, membuat diriku terbangun dari peristirahatanku. Mantel tebal yang hangat melindungi tubuhku dari hawa jahat itu.
Berdiri menghadap adegan itu. Jiwa ku yang masih terkantuk-kantuk, tercengang melihat keindahan di tengah amukan dewa angin. Hampir lemas tubuhku, pikiranku menerawang hampir tak percaya. Sungguh hebat, tekstur dan bentuknya membuatku ingin merekam semuanya. Ternyata tak semua bencana di dunia ini adalah hal yang mengerikan. Badai yang dashyat pun masih memiliki keindahan yang tak terukirkan. Keindahan yang tak tampak begitu saja. Hal sekecil apapun memiliki keindahan. Sekalipun itu daur kehidupan makhluk hidup atau mutan.